Obrolan Cak Edy

Avatar

obrolan tidak serius dari orang yang tidak penting

Nyamuk dan Puasa

Tadi malam saya tidak sahur. Adzan subuh terdengar dari masjid di dekat rumah begitu mata saya terbuka. Hmm .. pertanda tidak bisa minum air setegukpun. Adalah yang pertama kali sejak Ramadhan 1431 H ini.Saya memang tak menyalakan alarm. Biasanya nyamuk nyamuk akan membangunkanku tiap malam, kadang jam 2, 3 sampai 3.3O. Gak pakai alarm, asal tangan dan kaki saya terasa gatal sangat, pasti saya terbangun. Dan ketika mereka kekenyangan dan tak dapat terbang, saya membantai nyamuk yang berjajar jajar itu dengan raket listrik.

Tapi malam ini sepi nyamuk, saya tak merasakan gigitannya sehingga tak sempat sahur. Langsung saya raih HPku, saya atur agar berdering pukul 3 pagi, sehingga kalau besuk sepi nyamuk, masih ada dering alarm yang akan membangunkanku.

Maha suci Allah yang membuat perumpamaan nyamuk atau yang lebih rendah dari itu :)

Es Teler Kaki Lima Rasa Bintang Lima

Sore ini ingin mencari es teler murah dan enak untuk buka puasa. Kemana lagi kalau tidak ke jalan pacar keling 9b Surabaya. Dengan harga 8 ribu per mangkuk kita bisa memperoleh es teler dengan rasa tanpa tanding dengan isi buah lengkap. Mau ?

Tarawih dan Kantuk

Dalam sepuluh hari Ramadhan ini saya melakukan tarawih di dua masjid. Saya paham, bahwa jika kita makan terlalu kenyang efeknya kita akan mengantuk saat tarawih, karena itu biasanya saya akan menghentikan makan sebelum kenyang. Kenyataanya, saya masih sering mengantuk ketika sholat di masjid UPB, namun dengan keadaan yang sama, saya tidak mengantuk ketika tarawih di masjid ITS.

Makan terlalu kenyang memang menjadi faktor penyebab mengantuk, namun ada faktor lain yang menurutku tak kalah pengaruhnya.

Pertama, bangunan masjid. Sirkulasi udara yang bagus, pencahayaan yang terang, serta akustik yang bagus akan mencegah bangkitnya rasa kantuk. Ini yang paling membedakan Masjid UPB dan Masjid ITS.

Kedua bacaan imam sholat. Ada gaya bacaan dengan lagu yang melankolis, dan ada bacaan dengan tempo yang agak cepat. Yang melankolis akan lebih cepat membuat kita mengantuk.

Menurutmu ?

Berbuka dengan Iga Bakar

Iga Bakar
Iga Bakar

Kemarin berbuka dengan teman teman di iga bakar : 1 potong iga bakar, 1 piring nasi, 1 gelas es jeruk. Saya sempat khawatir kalau  menjadi ngantuk saat tarawih. Dugaan saya meleset, saya tarawih dengan tidak ngantuk sama sekali. Pertanyaan saya : apakah iga bakar tidak menyebabkan mengantuk, atau karena saya sholat di Masjid ITS yang lampunya terang benderang itu ? Entahlah :)

Puasa itu Maknanya Benar-benar Menahan Diri

Puasa telah kita lakukan bertahun-tahun, namun fenomena yang terjadi adalah fenomena kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok setiap bulan Ramadhan. Artinya bahwa di bulan Ramadhan konsumsi menjadi naik dan pengeluaran semakin bertambah.

Secara logika, berkurangnya jumlah makan sehari mestinya sebanding dengan pengeluaran, namun faktanya malah terjadi anomali.

Ini terjadi karena puasa hanya dimaknai sekedar tidak makan minum dari subuh sampai magrib, bukan dimaknai sebagai menahan diri secara lebih luas. Menurut saya, bahkan yang lebih berat dalam soal puasa adalah menahan yang diluar makan minum tadi.

Pertama, menahan diri dari sifat rakus : sehari tanpa makan minum kita kuat, namun kuatkah kita untuk makan tidak berlebihan saat berbuka puasa ?

Kedua, menahan diri dari makan berlrbihan : kita sering tidak tahan membeli berbagai makanan yang lebih mewah dari makanan harian kita sebagai bentuk kompensasi atas puasa kita pada siang hari. Ketiga, kita tidak ghibah, namun kita secara tak sengaja tak bisa menahan diri menikmati acara ghibah di tv maupun di internet.

Momentum puasa ini hendaknya bisa kita pakai untuk benar-benar belajar menahan diri secara maknawi, bukan hanya dalam aspek fiqih saja. Selamat berpuasa mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang disebut nabi hanya memperoleh lapar dahaga saja dari berpuasa.

Saya Sepakat dengan Muhammadiyah soal Hisab

Setelah beberapa lama mempelajari tentang perbedaan dalam penentuan kalender hijriah, serta mempelajari sedikit tentang astronomi, akhirnya saya sepakat dengan penggunaan ilmu hisab dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan.

Bahkan dalam puasa hari ini, saya tidak melihat sidang isbat, namun saya berpatokan pada maklumat yang dikeluarkan Muhammadiyah jauh hari sebelumnya.

Menurut saya penggunaan hisab lebih menjamin kepastian, apalagi perkembangan hisab dalam soal ketelitian sudah tidak saya ragukan lagi. Saya juga menyetujui digunakannya kriteria wujudul hilal yang berpatokan pada konjungsi sebelum magrib dalam penentuan tanggal satu, karena itu yang paling masuk akal dan kriteria yang paling pasti dalam penentuan awal bulan. Kriteria visibilitas hilal saya rasa terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya dan variannya sehingga lebih sulit untuk disatukan.

Adapun soal melihat fisik hilal atau soal menggenapkan 30 hari bila hilal tak terlihat adalah metode yang paling memungkinkan yang ada pada zaman Nabi.

Ini bukan soal rukyat yang benar atau hisab yang benar. Keduanya benar. Hanya saja ini pandangan pribadi atas metode yang paling tepat yang saya pertimbangkan dari berbagai aspek.

Jadi dalam soal ini, saya sepakat 100% dengan rekan-rekan Muhammadiyah.