Ahamiyatussyahaadatain 7
Karakter muslim kelima adalah zakat. Zakat adalah kewajiban dari seorang berharta untuk mengeluarkan sebagian rizkinya kepada mereka yang berhak, yang telah di atur kadarnya. Zakat merupakan persoalan yang dianggap penting dalam Islam, bahkan ia adalah salah satu sendi dari rukun Islam, setelah shalat. Bacalah Al Quran, dan perhatikan bahwa banyak diantara ayat Al-Qur’an yang bahkan menggandengkan kata zakat dengan shalat, wa aqiimusshoolata wa aatuzzakah, dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Ini menggambarkan betapa zakat merupakan suatu hal yang teramat ditekankan. Dahulu pada zaman Abu Bakar r.a, terdapat segolongan orang yang menolak membayar zakat, dan abu Bakarpun mengatakan, “ Akan aku perangi mereka yang memisahkan shalat dengan zakat”. Wa aqiimushshaalah, wa’aatuzzakah.
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. [Ikutilah] agama orang tuamu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan [begitu pula] dalam [Al Qur'an] ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. “ [QS 22:78].
Dari segi ketaatan kepada Allah, zakat merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang yang mampu. Berdosa orang yang tak melakukannya, dan tidak pula bersih harta yang dimakannya. Dari segi yang lain, zakat mengandung hikmah yang luar biasa.
Zakat merupakan sendi ekonomi ummat yang teramat potensial dan penting bagi pembangunan. beberapa hal yang dapat kita amati adalah bahwa zakat akan mampu memperkecil kesenjangan antara kaya dan miskin. Orang kaya akan memberikan kepeduliannya kepada orang miskin dan tak mampu agar lebih berdaya dengan zakat, karena didalam harta orang kaya memang tersimpan hak orang miskin. Dengan demikian, orang miskin akan merasa tertolong dan terberdayakan dengan hal tersebut.
Bagi orang kaya zakat bukanlah hal yang terlalu besar. Kalau kita hitung seperti zakat profesi toh hanya 2.5 persen dari penghasilan yang telah tercapai nishabnya. Nggak ada orang kaya bangkrut hanya karena tertib membayar zakat. Yang ada adalah orang kaya bangkrut karena keserakahannya. Meski hanya 2.5% ternyata juga nggak banyak orang yang mau berzakat.
Bagi golongan miskin, maka keberadaan zakat amat membantu penghidupan mereka. Kalau antum hidup di antara kalangan bawah sebagaimana saya, antum tentu akan merasakan sendiri, bagaimana masyarakat hasil pengelolaan reformasi ini semakin terjepit dengan hutang dan kebutuhan sehari-hari. Tiada hari tanpa hutang, dan tiada hutang tanpa bunga, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin terjepit. Ini sebuah realitas yang mustinya nggak boleh kita tutup mata.
Kalau antum bepergian pula naik kereta ekonomi, apa yang natum lihat di dalamnya, semakin hari semakin banyak aja para pengemis, pengamen, dan sebagainya, semakin lama kondisi masyarakat bawah semakin memprihatinkan saja bukan ? Atau coba saja masuk ke dalam lingkungan masyarakat dalam di Surabaya ini saja, antum akan melihat, betapa berjuang untuk hidup saja begitu sulit.
Persoalan-persoalan inilah yang hanya akan membuat kesenjangan kaya-miskin semakin lebar, orang kaya melihat salah sendiri orang miskin nggak mau kerja – padahal yang betul sebenarnya nggak ada kesempatan kerja -, dan orang miskin melihat, orang kaya maunya hanya menindas, mentang – mentang kaya.
Kemarin pula saya melihat di telvisi, pas saat ulang tahun Jakarta, katanya, masalah urgen di Jakarta adalah semakin lebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin. Nah, benar khan ?
Jika demikian terus, maka bangsa kita itu akan menjadi kapitalizm, dimana karena kebebasannya, dan karena semauguenya orang, maka orang kaya akan semakin menancapkan kukunya, sementara orang miskin menjadi semakin nggak berdaya. lalu orang miskin yang merasa tertindas hak-haknya menjadikan pemikiran sosialisme untuk melakukan perlawanan kepada orang kaya.
Sebenarnya upaya paling tepatnya adalah dengan pemberdayaan masyarakat dengan konsep zakat, dimana orang kaya mengeluarkan sedkit hartanya untuk keperluan zakat, sementara orang miskin akan terperhatikan dan terberdayakan dengan zakat. Itulah mengapa Abu bakar sampai memerangi orang yang menolak membayar zakat, karena zakat merupakan solusi pembangunan. Lihatlah betapa hebatnya, ketika dalam pemerintahan Umar bin Abdul Aziz mengoptimalkan sendi zakat ini, menjadikan beberapa tahun setelahnya orang menjadi kesulitan untuk mencari orang yang berhak menerima zakat.
Karenanya sudah seharusnya mengkaji pemanfaatan zakat ini, mensosialisasikan, dan menerapkannya sebagai solusi pembangunan. Dan seorang muslim, bagaimanapun kedudukannya, mendukung zakat.
Wallahu a’lam
achedy@telkom.net
achedy. Lahir di Trenggalek,
adalah seorang programmer web dan bapak dari dua orang anak. Tinggal
di Surabaya sejak tahun 1996. Menulis adalah hobinya sejak kuliah. Blog
ini hanyalah opini pribadi yang tidak terkait dengan perusahaan,
partai, asosiasi, dan forum tempat blogger beraktifitas. Bisa dihubungi
melalui email achedy_at_penamedia.com