Suara Achedy

Avatar

Bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Tempat kembali semua kehidupan.

Ahamiyatus Syahadatain 13, Muslim : Amar Makruf Nahi Munkar

Amar makruf nahi mungkar adalah karakteritik seorang muslim selanjutnya. Amar makruf nahi mungkar diterjemahkan sebagai menyuruh kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dan disinilah seorang muslim sudah harus bersentuhan dengan masyarakat sekitarnya. Tetangga, teman kerja, saudara, dan lain sebagainya. Jadi, ia sudah tidak lagi berfikir tentang perannya sebagai seorang individu, akan tetapi ia harus berfikir bahwa ia adalah makhluk sosial. Paradigma yang harus dibangun pada posisi ini adalah bagaimana ia bisa menyelamatkan sebuah komunitas di luar dia menuju sebuah kehidupan yang lebih terarah dan jelas, dunia dan akhirat.

Amar makruf nahi mungkar bagi seorang muslim berawal dari sebuah rasa sayang dan cinta, bukan benci dan permusuhan. Oleh sebab itulah dalam Islam tidak dikenal dengan teror untuk melakukan amar makruf nahi mungkar.

Namun, amar makruf nahi mungkar, bukanlah sesuatu yang ringan. Dalam kehidupan ini, terkadang banyak hal menarik yang membuat perhatian kita teralihkan. Nabi sudah mengingatkan. Sabdanya,

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya, Kini kamu jelas atas petunjuk Rabmu, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul dikalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan dunia dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Jika terjadi yang demikian, kamu tidak akan lagi beramar makruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Dikala itu yang menegakkan Al Quran dan Sunnah, baik dengan sembunyi maupun yang terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam (HR Al Hakim dan Attirmidzi).

Pada situsi seperti ini, kita harus merenungkan kembali, kita ada di koordinat mana ? Mengapa saya mengajak kita merenung. Di jaman yang serba kapitalis ini, semua waktu seakan hanya terfokus pada uang, dana, kekayaan dan pekerjaan. Seringkali meng-Islam-kan diri sendiri saja tidak cukup waktu, apalagi meng-Islam-kan orang lain dengan bentuk amar makruf nahi mungkar. Tapi ini sebuah keharusan, kalau kita ingin atribut terindah tersemat ke diri kita, golongan sabiqunal awalun, orang-orang pertama yang masuk Islam.

Menyuruh kepada orang untuk berbuat baik, mungkin cukup berat, apalagi nahi mungkar. Ketika Khairiansyah Salman mengungkap penyuapan KPU, apa yang terjadi, atasannya mencacinya, keluarganya menjadi tidak aman, dan pekerjaannya terancam. Beberapa waktu yang lalu, di Koran bisnis Indonesia, seseorang terpaksa membuat sebuah surat mohon ampun, karena ia tidak kuat menahan ancaman, setelah ia melaporkan sebuah perusahaan telah melakukan korupsi. Sungguh, orang-orang semacam inilah, jika niatnya ikhlash, maka ia telah mendapat kedudukan yang tinggi di sisiNya.

Di dalam Islam ada tiga tahapan melakukan nahi mungkar. Dari yang paling tinggi kedudukannya, karena sangat beresiko, sampai yang terendah. Sabda nabi,

Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendaklah ia merubah dengan tangannnya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lidahnya, dan apabila tidak mampu juga maka hendaklah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.

Allah menyebutkan bahwa salah satu karakteristik ummat terbaik (khairu ummah) yang disematkan kepada kaum muslimin adalah bahwa mereka menyerukan kebajikan dan mencegak kemungkaran.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imron 110)

Catatan :
Ayat lain yang menyebutkan kataamar makruf nahi mungkar adalah 3:114, 9:112.

Wallahu a’lam

achedy

Ahamiyatus Syahadatain 12

Saya sering membaca dalam berbagai media, bahwa orang-orang Singapura saat ini enggan untuk mempunyai anak, juga menikah. Mereka pesimis akan kehidupannya kelak. Kekhawatiran itu adalah, bisakah mengurus anak; atau kasihan anak-anak kalau nanti harus berkompetisi dalam kehidupan yang berat seperti ini. Padahal mereka adalah orang-orang yang hidup di negara maju, dengan penghasilan yang tertinggi di Asia Tenggara ini. Tapi mereka dilanda pesimisme. Saya yakin, jika pesimisme ini diteruskan, negara ini akan mempunyai persoalan serius di kelak kemudian hari.

Dalam kehidupan ini, selalu saja ada episode berhasil dan episode gagal. Akan tetapi akan lebih baik jika kita optimis menjalaninya. Jika dalam fikiran kita selalu muncul fikiran optimis, sendi-sendi dan semua elemen penyusun tubuh ini akan bergerak bersama-sama mengikuti fikiran kita, sedangkan ketika dalam diri ini dipenuhi jiwa kegelisahan, maka semua elemen tubuh kita akan loyo untuk melakukan sesuatu. Dan selalu saja, daftar orang-orang yang sukses itu, dijejali dengan orang-orang yang berjiwa optimis.

Yang diperlukan dalam perjalanan hidup ini adalah, menjalaninya dengan sepenuh hati, bertawakal kepada Allah dan juga berusaha (berbuat kebajikan). Dan sebagai seorang muslim, lantas kita berkeyakinan bahwa apa yang kita kerjakan ini ada nilainya bagi dunia dan akhirat. Dan orang-orang yang semacam ini dikatakan oleh Allah wa laa qoufun ‘alaihim walaa yahzanuun, dan tidak ada kekhawatiran dan sedih hati pada diri mereka

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada
Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah 112)

Setiap muslim, terhadap apapun yang terjadi pada dirinya, selalu di sikapi dengan optimisme. Bahkan ketika sakitpun, atau musibah mengena padanya iapun menghadapinya dengan jiwa optimisme.

Abdu said dan abu Hurairah berkata: Bersabda Rasulullah SAW : Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, atau kesusahan(kerisauan hati), bahkan gangguan yang berupa duri, melainkan semua kejadian itu akan menjadi penebus dosa baginya.

Dan dalam riwayat lain dikatakan :

Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan, dan menzalimi lalu beristighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah (HR Al Baihaqi)

Dan kesimpulannya, makna optimisme itu, …. memandang positif pada setiap persoalan.

Wallahu a’lam

Ahamiyatus Syahadatain 11

Dalam pengajian terakhir saya, yang kalau di Manarul ‘Ilmi Online, Rubrik Halaqoh, tercatat Desember 2002, berarti sudah satu setengah tahun saya tidak menulis di rubrik ini. Waktu yang cukup lama. Maafkan saya. Di hari ini, saya ingin mengisinya kembali, menyempatkan waktu dipagi hari sebelum berangkat kerja. Saya juga tidak bisa berjanji, apakah tulisan ini nanti akan hadir setiap minggu atau tidak, namun saya berusaha agar hadir setiap minggu seperti dahulu kala.

Akan kita lanjutkan pembahasan kita pada karakteristik seorang muslim. Karakteristik selanjutnya adalah, bahwa seorang muslim mewarnai kehidupannya dalam celupan Allah (Sibghatullah). Wa man ahsanu minallahi sibghah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada celupan Allah. Dan metode kehidupan mana yang lebih baik daripada metode kehidupan yang di buat Allah ? Lebih adil mana jalan kehidupan yang ada di dunia ini selain jalan hidup yang ditunjukkan Allah. Dan hanya milik Allah lah, yang terbaik itu.

Dalam Al Baqarah 208 – 209 difirmankan :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Orang yang sudah bersyahadad, yang sudah menetapkan hatinya bahwa tiada Illah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah, akan setia untuk mewarnai seluruh kehidupannya dengan warna Islam. Tidak saja salat-salatnya, tidak saja puasa-puasanya, namun semuanya. Hidupnya, matinya, seluruh jiwa raganya, seluruh aktifitasnya, hanya untuk keridhaan Allah, dan semuanya dikerjakan dengan suasana imani, suasana tauhid, yang citranya akan menimbulkan cinta, persahabatan, kedamaian, dan keindahan.

Sesunguhnya seorang muslim itu adalah, orang yang mempunyai pegangan yang kuat, kokoh. Dia adalah orang yang mempunyai prinsip dan pendirian , yang tidak mudah pudar, yang akan menjaga dan menuntunnya ke arah kebajikan. Maka dikatakan, jika kita berserah diri kepada Allah, lantas kita beraktifitas positif, berbuat kebajikan, maka sesungguhnya kita telah berpegang pada buhul tali yang kuat, bahwa sebenarnya kita sedang dalam jalan yang benar.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman:22)

Wallahu a’lam

Ahamiyatusy Syahadatain 10

Pertama saya minta maaf dan kebesaran antum, jika rubrik yang mestinya saya isi tiap minggu ini terpaksa absen berminggu-minggu, tak lain adalah karena adanya kesibukan dan halangan yang luar biasa banyak, hingga saya sering harus mengorbankan rubrik ini dan berkonsentrasi di salah satu rubrik tulisan aktifis saja. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu bersama antum.

Seorang muslim, mempunyai karakter yang baik terhadap sesama, yang menandai adanya pemahaman yang tinggi bahwa ia adalah sosok rahmatan lil ‘alamin. Karakter itu adalah bahwa seorang muslim harus berkata-kata baik dan beramal sholeh, atau barangkali dengan kata lain berakhlak sholeh. Sifat inilah yang jika melekat pada diri seseorang, maka orang itu akan menjadi enak untuk dipandang, nyaman untuk dimintai pendapat, menyenangkan untuk diajak bergaul, dan menjadikan kehilangan jika lama tak terlihat kehadirannya.

Membangun akhlaq, memang membutuhkan apa yang dinamakan riyadhoh, atau latihan. Menjadi seorang muslim yang berperangai baik bukan otomatis begitu saja dari belajar agama. Akan tetapi ia memerlukan latihan dalam berinteraksi dengan masyarakat.

[QS 41.33] Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’

Allah menyentuh kalbu kita dengan pertanyaan retorisnya, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah ?.” Tidak akan ada yang lebih baik dari itu, tidak akan ada yang lebih mulia dari orang yang menyeru kepada Allah dan beramal sholeh.

Dalam Surah Arrahman dikatakan tentang sifat IbadurRahman [Hamba Allah Yang Maha Pengasih], yang salah satunya adalah bahwa ia berjalan dengan rendah hati, ia melakukan aktifitas hidup dengan kestabilan jiwa dan perilaku sebagai cerminan keindahan kalbunya, dan bahkan jika ada orang usil menyapa mereka, maka ia akan mengucapkan kata-kata yang baik.

[QS 25.63] Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu [ialah] orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Begitulah akhlak terindah yang dimiliki oleh seorang muslim, yang datang dari jiwa-jiwa bersih mereka. Dalam Islam tidaklah diajarkan untuk mengubah keburukan dengan keburukan. Ubahlah keburukan dengan kebaikan, insyaallah akan dibukakan pintu hatinya pada kebaikan. Teringatlah saya akan nabi SAW yang ketika itu seseorang yang membencinya sering melemparinya dengan tahi, dan nabi dengan kemuliaan akhlaqnya tetap berbuat baik, dan akhirnya Allah membukakan kebekuan hati orang itu, dan menjadi pengikut nabi SAW.

Ketika orang berkata tidak baik kepada kita, tak usah pula kita meladeninya, karena nanti hanyalah emosi semata yang akan berbicara. Lebih baik kita membangun akhlak kita dengan tak meladeni apa katanya, atau kita pergi saja. Sebagaimana dikatakan Nabi SAW “Apabila ada seseorang mencaci maki kamu tentang apa yang ia ketahui tentang dirimu, janganlah kamu mencaci maki dia tentang apa yang kamu ketahui tentang dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia” [HR Addailami].

Seorang penanya pernah mengadukan sesuatu kepada AAgym, ketika beliau berceramah. Orang itu tidak senang ketika mendengar AAgym dicemooh oleh beberapa orang dengan mengatakan,”Ustadz nggak punya ilmu”. Dan yang membuat saya terkesan adalah kemuliaan akhlaq beliau yang berkata,”Ya sudahlah bu, nggak apa-apa, itu bukan cemoohan, itu hanyalah sekedar pemberitahuan”.

Begitulah semoga kita dapat mencontohnya, karena sepandai apapun kita, dan sehebat apapun kita, tapi tak akan ada artinya, tidak akan ada kemuliaan disisi kita, jika kita tidak mulai belajar membangun akhlaq dengan berkata yang baik dan beramal sholih.

Wallahu a’lam
Sby, Desember 2002

achedy@telkom.net

Ahamiyatus Syahadatain 9

Karakter muslim selanjutnya adalah bahwa dia melaksanakan Puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan memiliki nilai khusus dalam kehidupan seorang muslim, karena di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Islam didirikan atas lima perkara, dan salah satunya adaah Puasa Ramadhan.

Allah mewajibkan kaum beriman untuk melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh. Di surat Al baqarah dikatakan :

“[2.183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Puasa adalah sebuah Riyadhoh, untuk meningkatkan diri agar menjadi bertaqwa. Tentu, orang yang berhasil dalam latihan, akan bisa dilihat dari output latihannya. Seserang yang melaksanakan Puasa Ramadhan diharapkan mampu menjadikan segalanya menjadi lebih baik. Lebih banyak amalnya, lebih bening hatinya, lebih jernih fikirannya.

Ramadhan sering di sebut sebagai Syahrul Tarbiyah, bulan pendidikan. Disini seorang Muslim dididik dengan dibiasakan berbuat baik, memperbanyak amalan sholih, memperbanyak perenungan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena sebenarnya puasa bukan hanya berarti menahan makan dan minum, akan tetapi puasa berarti pula mengendalikan diri dari banyak hal yang dilarang agama, serta memperbanyak amalan shalih lainnya. Karenanya, seseorang yang tidak mampu melatih dirinya untuk menahan diri, maka seolah ia tak akan mendapatkan apa-apa. Dikatakan Rasulullah bahwa betapa banyak orang melakukan puasa akan tetapi ia hanya memperoleh lapar dan dahaganya saja. Dia tak akan mendapatkan pahala apapun, apalagi sebuah nilai dari tarbiyah agung ini.

Pemahaman awal kita dalam berpuasa adalah untuk memenuhi perintah Allah, akan tetapi kita bisa melihat bahwa dibalik puasa in trsimpan hikmah yang teramat luar biasa.

Puasa akan mampu menjadikan diri kita bersifat jujur. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa tidak akan ada orang melihat kita, apakah kita berpuasa sungguhan atau tidak. Kita bisa berbohong dengan mengatakan diri kita beruasa, karena toh tak akan ada orang yang akan mengamati kita, karena yang tahu bahwa kita berpuasa atau tidak adalah kita dan Allah saja. Karenanya dikatakan bahwa puasa akan melatih kita untuk selalu bermuraqabatullah, untuk selalu merasa bahwa kita itu sebenarnya selalu berada dalam pengawasan Allah. Terserah apakah orang lain tahu atau tidak. Ini adalah hal penting dalam hidup, karena seperti yang kita ketahui, banyaknya penyimpangan dalam hidup ini sebenarnya lebih disebabkan bahwa ia tidak merasa dalam pengawasan Allah SWT. Karena ia merasa bahwa tidak akan ada yang tahu selain dirinya sendiri.

Puasa akan mendidik kita pula untuk menjadi orang yang dapat merasakan penderitaan orang lain, betapa nggak makan sehari perut terasa lapar.Puasa akan mengetuk jiwa-jiwa sosial kita, jiwa-jiwa welas asih kita, karena sebenarnya orang-orang lain banyak yang makan saja sulit. Yang merasakan berlipat kali dari kelaparan yang kita rasakan.

Puasa akan melatih jiwa kita untuk lebih bisa mengendalikan diri, karena sesungguhnya mengumbar nafsu hanya akan menjadikan puasa kita tak bernilai sama sekali. Betapa nilai-nilai kesabaran, keteguhan dan optimisme akan terbentuk dengan kemampuan kita untuk mengendalikan diri, karena pada dasarnya kebanyakan dari kegagalan adalah karena kita tidak mampu untuk mengedalikan diri kita.

Akan banyak hal lain yang dapat kita kupas dari Puasa, yang tak akan ada efeknya kecuali hanya akan membangun kebiasaan yang positif. Bagi yang bersunguh-sungguh melaksanakannya, keberhasilan puasa dapat dilihat pada bulan-bulan selanjutnya. Karenanya keberhasilan seorang muslim dalam berpuasa adalah bahwa ia akan dapat mempertahankan kebiasaan dan suasana Ramadhan dalam buulan-bulan selanjutnya.

Wallahu a’lam

1 Sept 2002
achedy@telkom.net

Ahamiyatush Syahadatain 8

Karakter seorang muslim selanjutnya adalah bahwa ia menjadikan Allah sebagai pelindung dan penolongnya. Inilah karakter yang seharusnya dibangun pada generasi Islam sekarang ini, bahwa ia tidak mempunyai rasa ketergantungan kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah. karena pada hakekatnya Allah lah yang akan menjadi pelindung dan penolong jikalau seseorang benar-benar beriman. Karenanya secara logika sebenarnya telah ketemu bahwa jika kita beriman dengan sebenar-benarnya maka insyaallah pertolongan dan perlindungan Allah akan datang kepada kita.

Dalam surat Al Hajj 78 dikatakan :
[22.78] Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. [Ikutilah] agama orang tuamu Ibrahim. Dia [Allah] telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan [begitu pula] dalam [Al Qur'an] ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Dirikanlah sholat, tunaikan zakat, berpeganglah pada tali Allah, dan pasrahkanlah dirimu kepada Nya insyaallah Pertolongan dan perlindungan Allah akan selalu menjumpaimu.

Pada saat terjadi perang Al Ahzab, sebuah peperangan yang maha dahsyat, dimana semua kabilah menyerang madinah, maka diceritakan keadaan itu membuat kondisi madinah semakin memprihatinkan. pengepungan yang dilakukan musuh telah membuat kondisi ekonomi anjlok, bahkan makananpun sulit didapat. Di saat –saat yang demikian beberapa pejuang berkata “ma’ahu mata nasrullah “, Kapankan pertolongan Allah datang ? , maka Allah menyuruh mengatakan, “inna nasrullahi Qariib”, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Dan benar saja, selanjutnya turunlah badai salju yang mengobrak- abrik 10.000 pasukan musuh yang mengepung Madinah. Pertolongan Allah benar-benar datang.

Dalam surat al Baqarah ayat 257 dikatakan
[2.257] Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan [kekafiran] kepada cahaya [iman]. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan [kekafiran]. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Karenanya keyakinan mengenai perlindungan dan pertolongan Allah harus benar-benar di hunjamkan di dada kita semua. Meyakini hal ini akan menyebabkan seorang muslim mempunyai kemantapan langkah, dan tidak tergerogoti oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Karena sebenarnya pertolongan Allah akan datang , tentu saja jika kita benar-benar beriman. Tidaklah mungkin para Nabi dan shahabat bersusah-susah berdakwah, mengorbankan banyak harta benda, kalau mereka tidak yakin akan datangnya pertolongan dan perlindungan dari Allah. Dan keyakinanya, ternyata membuahkan hasil yang gemilang.

wallahu a’lam

achedy@telkom.net

Next,

PROFIL

achedy'sAchedy adalah seorang programmer web dan bapak dari satu orang anak. Tinggal di Surabaya sejak tahun 1996. Menulis adalah hobinya sejak kuliah. Blog ini hanyalah opini pribadi yang tidak terkait dengan perusahaan, partai, asosiasi, dan forum tempat blogger beraktifitas. Bisa dihubungi melalui email achedy_at_penamedia.com

FLICKR


eXTReMe Tracker
View My Stats