Obrolan Cak Edy

Avatar

obrolan tidak serius dari orang yang tidak penting

Ahamiyatus Syahadatain 13, Muslim : Amar Makruf Nahi Munkar

Amar makruf nahi mungkar adalah karakteritik seorang muslim selanjutnya. Amar makruf nahi mungkar diterjemahkan sebagai menyuruh kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dan disinilah seorang muslim sudah harus bersentuhan dengan masyarakat sekitarnya. Tetangga, teman kerja, saudara, dan lain sebagainya. Jadi, ia sudah tidak lagi berfikir tentang perannya sebagai seorang individu, akan tetapi ia harus berfikir bahwa ia adalah makhluk sosial. Paradigma yang harus dibangun pada posisi ini adalah bagaimana ia bisa menyelamatkan sebuah komunitas di luar dia menuju sebuah kehidupan yang lebih terarah dan jelas, dunia dan akhirat.

Amar makruf nahi mungkar bagi seorang muslim berawal dari sebuah rasa sayang dan cinta, bukan benci dan permusuhan. Oleh sebab itulah dalam Islam tidak dikenal dengan teror untuk melakukan amar makruf nahi mungkar.

Namun, amar makruf nahi mungkar, bukanlah sesuatu yang ringan. Dalam kehidupan ini, terkadang banyak hal menarik yang membuat perhatian kita teralihkan. Nabi sudah mengingatkan. Sabdanya,

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya, Kini kamu jelas atas petunjuk Rabmu, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul dikalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan dunia dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Jika terjadi yang demikian, kamu tidak akan lagi beramar makruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Dikala itu yang menegakkan Al Quran dan Sunnah, baik dengan sembunyi maupun yang terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam (HR Al Hakim dan Attirmidzi).

Pada situsi seperti ini, kita harus merenungkan kembali, kita ada di koordinat mana ? Mengapa saya mengajak kita merenung. Di jaman yang serba kapitalis ini, semua waktu seakan hanya terfokus pada uang, dana, kekayaan dan pekerjaan. Seringkali meng-Islam-kan diri sendiri saja tidak cukup waktu, apalagi meng-Islam-kan orang lain dengan bentuk amar makruf nahi mungkar. Tapi ini sebuah keharusan, kalau kita ingin atribut terindah tersemat ke diri kita, golongan sabiqunal awalun, orang-orang pertama yang masuk Islam.

Menyuruh kepada orang untuk berbuat baik, mungkin cukup berat, apalagi nahi mungkar. Ketika Khairiansyah Salman mengungkap penyuapan KPU, apa yang terjadi, atasannya mencacinya, keluarganya menjadi tidak aman, dan pekerjaannya terancam. Beberapa waktu yang lalu, di Koran bisnis Indonesia, seseorang terpaksa membuat sebuah surat mohon ampun, karena ia tidak kuat menahan ancaman, setelah ia melaporkan sebuah perusahaan telah melakukan korupsi. Sungguh, orang-orang semacam inilah, jika niatnya ikhlash, maka ia telah mendapat kedudukan yang tinggi di sisiNya.

Di dalam Islam ada tiga tahapan melakukan nahi mungkar. Dari yang paling tinggi kedudukannya, karena sangat beresiko, sampai yang terendah. Sabda nabi,

Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendaklah ia merubah dengan tangannnya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lidahnya, dan apabila tidak mampu juga maka hendaklah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.

Allah menyebutkan bahwa salah satu karakteristik ummat terbaik (khairu ummah) yang disematkan kepada kaum muslimin adalah bahwa mereka menyerukan kebajikan dan mencegak kemungkaran.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imron 110)

Catatan :
Ayat lain yang menyebutkan kataamar makruf nahi mungkar adalah 3:114, 9:112.

Wallahu a’lam

achedy

Arti Penting Syahadat [Pengantar]

Syahadat, seberapa pengtingkah ia, hingga dapat mengeliompokkan manusia, hingga menjadi faktor penentu apakah manusia masuk Surga dan Neraka. Dan mengapa pula banyak orang, bahkan di zaman nabi tidak mau bersyahadat, padahal mereka mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, dan bahkan ketika ditanya untuk apa patung yang diletakkannya di ka’bah itu, maka dijawablah bahwa ia digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sang pencipta alam semesta.

Jika orang Qurays waktu itu mengakui keberadaan Allah, lalu mengapa mereka menolak saat Allah menurunkan Rasul, yang akan menuntun mereka ke jalan kebaikan. Toh hanya dengan mengucapkan Asyhadu Anla Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rosuululloh.

Dalam Islam syahadat adalah persoalan tertinggi, yang tak ada yang lebih tinggi darinya, syahadat adalah sebuah pengakuan bahwa tiada ilah, tiada sesembahan melainkan hanya Allah semata, dan sebuah pengakuan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Setelah mengakui, maka tentulah ia akan menaati, karena sebuah ketaatan adalah bukti dari pengakuan, pengakuan tanpa ketaatan bukanlah pengakuan namanya, akan tetapi hanyalah mengaku-ngaku saja. Barangkali itulah mengapa orang-orang kafir quraysh yang pada saat lalu susah untuk diminta mengucapkan syahadah adalah karena konsekwensi yang harus ditempuhnya tatkala ia berani mengucapkannya, meletakkan Allah dan Rasul diatas segala-galanya, mencintai Allah dan Muhammad diatas segala-galanya.

Dengan mengetahui makna syahadah, maka tentu akhirnya kita akan tahu, sebenarnya setelah kita mengucapkan pengakuan dalam syahadat itu, ketaatan apa yang harus kita jalani, bagaimana seharusnya kita berbuat dan sebagainya.

Syahadat adalah amalan hati, yang jika sebuah hati telah tersibghah syahadat, maka ia akan mengendalikan seluruh aktifitas hidupnya. Semua persendian tubuhnya akan hanyut dan larut dalam kenikmatan aktifitas di bawah naungan syahadah, meski terkadang bencana dan rintangan musti dihadapinya. Ia rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya, bahkan nyawanya untuk sebuah kalimat laailaha illallah, MuhammadarRasuulullah.

Dari stahadat pula, kemudian akan muncul tiga golongan manusia yang akan kita bahas kemudian, yaitu yang menolak syahadat, dan bahkan memusuhi orang-orang yang bersyahadat, maka ialah golongan orang kafir. Ada pula yang berpura-pura bersyahadat, padahal hatinya menolak, maka ialah munafiq. Dan ada pula yang dengan ikhlash mau menyerahkan dirinya dibawah kalimat syahadat, maka ialah orang mukmin.

Dan hanyalah orang mukmin, yang akan beruntung, didunia dan akhirat tentu saja

Wallahu a’lam
Achedy@yahoo.com

Pertemuan 19 : Mengenal Manusia bagian I

Sekarang sampailah kita pada topik baru mengenal manusia. Kita akan membicarakan tentang beberapa hal yang terkait dengan manusia, yaitu asal usulnya, bahan bakunya, strukturnya, serta proses keberadaannya, martabatnya, kedudukan dan tugasnya, pedoman dan bekalnya,Tanggungjawabnya, penilaiannya dan alat penilainya dan lain-lain.

Mengapa keberadaan manusia dibahas sedemikian detail, tak lain adalah agar manusia mengetahui darimana sebenarnya ia berasal, dan akan kemana ia harus pergi, dan apa yang harus dikerjakannya dengan posisi yang dimiliki sekarang ini. Ketaktahuan manusia akan dirinya, atau tersesatnya pengetahuan atas dirinya, hanya akan menyebabkan semakin jauh ia dari tuntunan dan aturan hidup yang benar, makin tersesat ia dari cahaya, dan akan tersesat ia dalam kegelapan yang semakin pekat.

Maka ia harus segera mengetahui persoalan ini, agar ia tak tersesat dengan informasi yang terkadang dibungkus dengan hal-hal yang kelihatannya ilmiah dan masuk akal, hingga melepaskan keimanannya , serta bahkan meragukan kandungan Al Qur’an.

Manusia diciptakan oleh Allah, itulah yang dikatakan Allah dalam firmannya yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Dikatakan,” Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” [2:21].

Jadi manusia, baik manusia pertama maupun manusia selanjutnya adalah ciptaan Allah. Manusia pertama dalam banyak riwayat disebutkan adalah nabi Adam. Secara singkat diceritakan bahwa manusi pertama diciptakan Allah dari tanah, “Sesungguhnya misal [penciptaan] ‘Isa di sisi AllAh, adalah seperti [penciptaan] Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ [seorang manusia], maka jadilah dia.” [3:59]

Setelah terbentuk sempurna Allah lalu meniupkan Ruh pada Adam, dan menaruhnya di Surga. Bukan itu saja, Allah lalu menciptakan pasangan bagi Adam, lalu mereka menerima perintah dan larangan. Akan tetapi karena terbuai dengan bujuk rayu Iblis, maka Adam yang melanggar aturan Allah lalu diturunkan kebumi. Di bumi Adam bertaubat dan mengakui kesalahannya serta minta ampun kepada Allah. Permintaan ampun adam yang tulus, menyebabkan Allah mengampuni dosa-dosanya, hingga setelah sekian tahun melewati kehidupannya, serta sudah sekian banyak melahirkan keturunannya, maka sesuai dengan sunnatullah, maka meninggallah Adam, dan kelak ia akan menjadi penghuni surga kembali.
Keturunan Adam juga mempunyai proses keberadaan yang hampir sama pula. Dari tanah, saripati tanah, kemudian terbentuklah sperma dan ovum, segumpal darah, daging, tulang, tulang yang terbungkus daging, dan pada 120 hari maka ditiupkanlah ruh oleh malaikat. Lalu ia akan dilahirkan, tumbuh kembang sampai waktu tertentu, kemudian akan mengalami kematian, dan masuklah ia ke dalam alam kubur. Suatu saat ia akan di bangkitkan di padang mahsyar dan terakhir ia akan ditentukan, masuk surga atau neraka berdasarkan amal-amalnya. Allah menerangkan proses keberadaan manusia ini dalam QS 23 : 12-16

“12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu
saripati [berasal] dari tanah.
13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani [yang disimpan]
dalam tempat yang kokoh [rahim].
14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang [berbentuk] lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
15. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
16. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan [dari kuburmu] di hari kiamat.”

Demikianlah, Allah telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang proses keberadaan manusia, agar manusia mampu merenunginya, serta mengambil pelajaran, bahwa ia hanyalah hamba Allah yang dicipta Allah untuk beribadah kepadanya.

Persepsi-persepsi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari sebuah evolusi dari kera, atau bahkan proses selanjutnya hanyalah proses biologis yang berlangsung wajar begitu saja tanpa campur tangan Allah, tentu tidak dapat diterima, karena tidak demikain Allah menceritakan.

Karenanya seorang muslim harus berterimakasih kepada Allah serta menjaga hidupnya agar selalu berhati-hati, karena sebenarnya ia akan menghadapi sebuah konsekwensi yang sangat luar biasa, hidup di surga atau tinggal di neraka.

Wallahu a’lam

achedy@yahoo.com

Pertemuan 18 : Dakwah Manhajiah, Menghindari Ashobiyah

Ashobiyah diartikan sebagai sikap yang fanatik secara berlebihan kepada kelompoknya, yang kalau dahulu barangkali kepada kabilahnya, sukunya, atau jika sekarang ini barangkali antara organisasinya, alirannya, atau mungkin harakahnya.

Islam sebenarnya agama yang satu, akan tetapi dengan adanya perkembangan waktu, akhirnya seringkali terjadi perbedaan penafsiran dalam menerjemahkan nilai Islam itu. Perbedaan sebenarnya sudah ada dalam zaman nabi, dan ashabiyah sebenarnya tidaklah perlu ada jikalau masing-masing fihak memahami yang lain, serta mengadakan dialog yang konstruktif selama masih memungkinkan. Masing-masing fihak tidaklah boleh ‘mengerasi’ yang lain ketika melontarkan ketidak setujuannya.

Islam datang bukan untuk memecah belah, akan tetapi Islam datang untuk menyatukan, menyatukan tuhan, menyatukan rasul, menyatukan kitab, sehingga muncullah kesatuan ummat. Ingatlah, ketika saat suku Aus dan Khazraj di Yastrib saling bersengketa, lalu nabi menyatukannya dalam naungan Islam.

Perbedaan antar organisasi dakwah, tak haruslah berakhir dengan ketegangan, akan tetapi berakhirlah dengan kebaikan, janganlah saling mengolok, janganlah saling menghina, akan tetapi yakinilah bahwa adanya organisasi adalah hanya untuk memudahkan kita dalam mengkoordinasi dakwah. Apakah kita merasa bahwa hanya kita saja yang akan berdakwah ini, sedangkan orang lain tak berperan apa-apa.

Sesungguhnya setiap muslim kata Allah adalah saudara, yang jika ada perselisihan saja diantaranya kita diharapkan akan dapat mendamaikannya. Maka tentu sangat menentang Allah jika kita sendiri yang karena ashabiyah kita lalu menebarkan kebencian kepada rekan kita yang lain yang barangkali tidak se-organisasi, atau se-harakah.

Rasul saja berkata bahwa tiap muslim itu fii jasadil wahid, satu tubuh, yang jika salah satu anggotanya terluka maka tubuh lainnya juga akan merasakan sakitnya.

Allah jauh-jauh telah mengingatkan akan hal ini.

‘ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; [tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’
‘dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, ‘
‘ yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka’ [QS : 30 - 32]

Renungkanlah ayat di atas, maka antum akan memahami ungkapan ‘Islam Qablal Jama’ah’, Islam sebelum jama’ah. Barangkali antum perlu juga membaca Fiqul Ikhtilaf, yang ditulis Dr. Yusuf Qardlawi, sehingga kita dapat mendudukkan setiap persoalan dengan tanpa harus ber ashobiyah

Wallahu a’lam
achedy@yahoo.com

Pertemuan 14 : Dakwah yang Tawazun

Karakteristik dakwah berikutnya adalah bahwa seruan yang dibawakan haruslah tawazun; makna dari tawazun itu sendiri sebenarnya kurang lebih adalah bagaimana seorang aktifis dakwah menyeru dan membina manusia untuk memenuhi aspek-aspek kebutuhannya secara seimbang. Akan tetapi jika dipandang dari sudut yang lain tawazun juga dapat bermakna menyeimbangkan diri dalam pemenuhan kebutuhan akhirat tanpa meninggalkan dunia.

Apa sajakah sebenarnya kebutuhan manusia itu ? Ada yang membaginya dalam dua term yaitu jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani terkait dengan kebendaan yang dapat ditangkap oleh panca indera, dan sering disebut sebagai lahiriyah. Sedangkan kebutuhan rohani adalah kebutuhan untuk memenuhi hal-hal yang sifatnya ma’nawiah, seperti kebahagiaan, ketenteraman, kasenangan, kepuasan batin dll.

Akan tetapi dalam bahasan kita ini akan membagi kebutuhan manusia ini ke dalam 3 kelompok dimana yang disebutkan dengan kebutuhan batiniah masih dibagi menjadi dua yaitu kebutuhan akal dan ruh. Pembagian ini hanya di gunakan untuk memudahkan kita membuat pengertian yang lebih baik, karena pada dasarnya akal dan ruh memang agak berbeda.

Manusia dengan ruhnya akan dapat menggunakan apa yang disebutnya sebagai ‘rasa’. Rasa sayang, belas kasih, dll. Rasa adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan rasa manusia dapat memahami tentang Ketuhanan, dengan rasa manusia bisa membangun komunikasi yang lebih baik antar sesama dll. Rasa tidaklah banyak mmememtingkan untung rugi, karena rasa berorientasi pada kepuasan batin seseorang. Untuk memupuk sensitifitas Ruh, maka manusia memerlukan apa yang disebut sebagai dzikir. Dzikir dalam Islam berarti mengingat Allah. Dengan dzikir maka manusia akan mempunyai ketajaman perasaan. Maka dalam Al Qur’an seringkali muncul ungkapan yatazdakkaruun [berdzikir]

‘Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah [dengan menyebut nama] Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.[33:41]‘

‘Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut [membangga-banggakan] nenek moyangmu [126], atau [bahkan] berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendo’a: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami [kebaikan] di dunia’, dan tiadalah baginya bahagian [yang menyenangkan] di akhirat. [2:200]‘

Dengan akalnya manusia akan dapat menimbang-nimbang, apakan sesuatu itu mashlahat atau mudzarat, menguntungkan atau tidak, dan dengan akalnya pula manusia dapat mempertahankan kehidupannya, dapat membuat cara baru dalam melakukan sesuatu dll. Akal manusia dapat menemukan temuan baru yang berguna dalam kehidupannya. Akan tetapi akal yang tidak dipandu oleh ruh yang baik tentu terkadang hanya mau untungnya sendiri. Akal juga dapat di gunakan sebagai sarana menggapai hidayah. kalau kita memperhatikan penciptaan langit dan bumi, mau mengamati ciptaan Allah secara mendalam tentu manusia dapat menemukan Tuhannya. Manusia yang dapat pula memperoleh kesimpulan dari perenungannya terhadap alam ini jika ia memang bersungguh-sungguh.

‘Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan [765], Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kebesaran Allah] bagi kaum yang memikirkan.[13:3]‘

‘Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kebesaran Allah] bagi kaum yang berfikir. [13:4]‘

Ketiga adalah raga. Manusia disamping harus mengoptimalkan jiwanya juga harus mengasah Raganya. kata Rasul bahwa muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah. Bahkan Rasul juga menganjurkan anak-anak untuk dilatih memanah dan berenang. Ini menandakan bahwa persoalan raga/fisik memperoleh perhatian serius dalam Islam. Demikian halnya dengan persoalan makanan, allah memerintahkan kita agar makan denagn makannan yang halalan thoyyibah, makanan yang halal dan bergizi, agar kita dapat beraktifitas denagn baik.

Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut haruslah selalu dipupuk. Dan inilah tugas para da’i dalam menyampaiakn risalah Islam yang agung ini. Kita dapat memupuk jiwa dengan ibadah ritual, shalat, puasa, dzikir. Kita dapat mengasah fikiran untuk memikirkan hal-hal yang baik, dan kitapun dapat melatih fisik dengan memberi makanan yang halal dan thayyib serta melatihnya dengan berolah raga yang cukup.

Jika tawazun di pandang dari segi yang lain, maka seruan dakwah juga harus berorientasi terhadap bagaimana seseorang akan mampu membagi pemenuhan kebutuhan dunia dan akhiratnya secara seimbang. Seorang da’i haruslah menuntun ummat agar dapat memenuhi kedua aspek tersebut secara seimbang, memenuhi kebutuhan akhirat tanpa meninggalkan dunia.

Nabi pernah mengatakan bahwa carilah dunia ini seakan engkau akan hidup selamanya, dan carilah akhirat ini seakan engkau akan mati esok. Artinya dunia dan akhirat keduanya harus dicari secara sungguh-sungguh.

‘Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [keni'matan] duniawi dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.[28:77]‘

wallahu a’lam
achedy@yahoo.com

Pertemuan 13 : Karakteristik dakwah : Alamiyah

Karakteristik dakwah selanjutnya yang harus dibangun oleh gerakan dakwah yang hanif adalah bahwa dakwah yang dibangun adalah dakwah yang alamiyah atau universal. Dakwah yang alamiyah adalah dakwah yang ditujukan kepada setiap manusia yang berkedudukan di dunia ini tanpa memandang Ras, Suku, keturunan dll untuk secara bersama-sama menuju keridaan Allah, dengan beribadah dan hanaya mengIlahkan Allah saja.

Bukankan Allah terlah menerangkan dalam kitabnya yang lurus bahwa Rasul Muhammad SAW itu diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta ini [Rahmatan lil 'Alamin]. Dengan demikian maka sifat rahmatan lil alamin harus menyatu dalam tubuh setiap gerakan dakwah yang mengaku menyeru kepada Agama Allah ini.

‘Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam’ [21:107]

Seruan harus dimotivasi oleh perintah Allah, oleh sebab itu ada dana atau tidak, dan dalam posisi bagaimanapun ia, haruslah selalu menyeru ke jalan Allah. Seluruh manusia harus menegnal Islam ini, dan kita akan selalu berusaha dengan bijak untuk menyelamatkan manusia dari perbudakan atas manusia, dan menyelamatkan akhiratnya dari neraka.

‘Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan [Al-Quraan].’ Al-Quraan itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat’.[6:90]

Kedatangan Rasulullah adalah berita gembira, yang sebenarnya telah dinanti-nantikan oleh banyak orang, dan telah di sebutkan oleh kitab-kitab terdahulu dalam taurat dan injil. Dalam taurat disebutkan bahwa akan datang rasul terakhir yang akan menyeru kepada seluruh ummat, demikian pula dalam injil. Tak heran jika pada usia anak-anak, ketika Muhammad diajak pamannya untuk berdagang ke Syam, seorang pendeta Nashrani yang alim, Buhaira, bahkan menyarankan agar Muhammad dibawa pulang kembali, karena jikalau ketahuan ia adalah calon nabi maka akan akan dianiaya oleh orang-orang Yahudi.

Meskipun kedatangan rasul ini pada awalnya tidak disambut dengan antusias maka dakwah haruslah berjalan terus, karena kalau tidak demikian, kalau tidak karena banyak tantangan, mana mungkin para generasi awal kita akan mempunyai jiwa yang begitu tinggi. Yahudi dan Nasrani banyak mengingkarinya hanya karena Muhammad bukanlah dari golongan mereka, sedangkan dari sukunya sendiri juga menentangnya, karena dianggap telah melanggar tradisi nenek moyang mereka. Toh seruan tetap dilancarkan kepada seluruh ummat dengan tanpa paksaan.

‘Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui’[34:28]

Dakwah yang disampaikan bukanlah untuk mencari keuntungan materi, atau untuk mencari kedudukan, tetapi dakwah yang universal ini hanyalah seruan kepada manusia agar kembali kepada jalan Allah, agar dunia menjadi damai. Adalah tugas setiap muslim untuk mengemban risalah dakwah kepada siapa saja yang mau mendengarkannya, untuk ber’tauhid’ mengesakan Allah SWT.

[7:158]
Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya [kitab-kitab-Nya] dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’.

wallahu a’lam
achedy@yahoo.com

Next »