Obrolan Cak Edy

Avatar

obrolan tidak serius dari orang yang tidak penting

Metode Granada

Menyimpan Data di “Cloud Computing” untuk Orang Awam

mail-cloud.png Saat ini sering terdengar kata Cloud Computing. Bagi orang awam mungkin terdengar baru, namun sebenarnya konsepnya sederhana. Menaruh data di internet, atau yang lebih komplek bahkan komputer bisa dipindahkan di media internet. Untuk kali ini, akan saya bahas yang pertama saja, yaitu menaruh data di “internet”.

Dengan Cloud Computing, kita tak harus tahu dimana fisik data kita, yang penting, kita disuguhi alamat yang bisa kita akses untuk menaruh dan mengambil data kita. Dengan menaruh data di internet, kita bisa mengunggah dan mengambil data kapan saja dan dimana saja asal terhubung internet.

Kemarin mendapat kabar bahwa laptop seorang teman hilang di bus. Soal laptop mungkin masih bisa dibeli, namun soal data ? Dari situ saya menyadari kembali bahwa menaruh data di cloud computing menjadi penting. Beberapa file lama saya masih bisa saya dapatkan di “Google Docs”, fasilitas penyimpan data di Google.

Beberapa data saya yang lain juga tanpa sengaja saya masukkan di “Cloud”, yaitu Yahoo Mail. Dengan kapasitas tak terbatas, selain untuk berkirim email, Yahoo Mail juga bisa diandalkan untuk menyimpan data, tentu saja sebagai attachment, apalagi disana ada folder-folder untuk mengklasifikasikan jenis email kita. Asal melakukan penamaan yang jelas, data-data kita bisa dengan mudah kita cari dengan fasilitas “Search“.

Apakah kamu juga demikian ?

SMS Gateway dengan Gammu dan Wavecom Fastrack

Barusan membuat tutorial menggunakan Gammu dan Modem Wavecom Fastrack di Windows XP. Kalau anda membutuhkan silahkan akses di blog ‘blogspot’ saya.

Kalau ada yang ditanyakan, silahkan buat komentar disini. Tapi saya tak janji membahasnya, terutama  pertanyaan yang sulit-sulit :) .

GUI Windows XP untuk Linux

Salah satu keengganan orang menggunakan Linux, salah satunya adalah GUI Linux yang berbeda jauh dengan Sisitem Operasi yang bertahun-tahun telah dirasakan kemudahannya : Windows.

Saya sendiri, sebagai pengguna campuran Linux – Windows memang harus mengakui bahwa desain Windows XP adalah yang ternyaman, diantara berbagai desain GUI, bahkan MAC sekalipun.

Beberapa hari ini saya diminta untuk membantu teman mensetting sebuah ruang training komputer dengan komputer dan sistem operasi di dalamnya. Melihat Ubuntu yang desain GUI terakhirnya berubah jauh dengan sebelum2nya membuat saya sedikit kecewa. Akhirnya saya memilih Linux Ylmf buatan Cina yang sebenarnya turunan ubuntu 10.04. Alasannya, simpel dan GUI nya mirip Windows XP. Untuk membuatnya lebih persis saya menginstall XPGnome . Hasilnya, teman-teman di kantor sulit membedakan mana Windows XP yang asli dan yang palsu.

Dengan demikian, saya berharap bahwa dengan keramahan GUInya ini orang tidak takut dulu sebelum mencoba. Ternyata Linux hampir sama dengan Windows ya, begitu komentar yang kami inginkan nanti :D

Ini dia screenshotnya ..

Bagaimana kang :)

Dari PHP ke Delphi

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bahwa saya lagi belajar Delphi untuk mendampingi PHP :) . Bahasa yang digunakan Delphi adalah Pascal, yang diajarkan di setiap jurusan saat saya kuliah dulu. Dulu, Pascal diajarkan di semester 1 tepat saat saya baru menyentuh barang yang namanya komputer. Tahun 1996.

Intinya, saya tak mengerti soal Pascal, dan harus puas dengan nilai C, serta trauma dengan pemrograman komputer. Suatu saat karena kebutuhan, akhirnya saya mulai lagi dengan belajar pemrograman. tepatnya pemrograman Web. pilihan saya jatuh pada ASP dan kemudian PHP. Ada bahasa diluar itu yang pernah saya gunakan, Mathlab, untuk tugas akhir.

Ada banyak perbedaan antara Delphi dan PHP. Plus minuslah. Desain form Delphi lebih mudah dilakukan, tinggal ambil, pasang dan atur properties lewat GUI. Ada pula komponen-komponen yang memudahkan kita melakukan pekerjaan. Sebuah isi database bisa ditampilkan di Form tanpa harus menuliskan 1 baris kodepun. Kita hanya memilih komponen dan mengaturnya saja. Tulisan kodenya digenerasi otomatis.

Namun jika kita ingin melakukan kustomisasi, disini sulitnya. Di PHP kita tak terlalu dituntut mendeklarasikan type variabel, fungsi, kelas, array, namun di Delphi ini adalah keharusan.

Seperti saat ini saya lagi mencari padanan is_integer(). Nampaknya harus membuat fungsi sendiri nih :(

Belajar Delphi

delphi.png

Seminggu ini, saya belajar pemrograman yang tak biasa bagi saya : Desktop Programming. Setelah pilah pilih bahasa, akhirnya saya memilih Delphi 7. Pertimbangannya Delphi saya anggap ringan dan cocok bagi laptop saya yang hanya Celeron dan singgle processor. Juga ukuran instalernya yang tak begitu besar, didukung GUI yang tinggal klak klik. Mungkin alasannya akan beda dengan pertimbangan orang yang lama berkecimpung di dalam Desktop Programming.

Sekian lama belajar di web programming, saya merasa memang ada yang kurang jika tak menguasai desktop programming. Dalam banyak kasus, ada beberapa hal yang hanya efektif dilakukan dengan desktop programming.

Di awal belajar saya dibantu oleh buku Delphi yang saya beli. Meskipun tak dalam namun sebagai pengetahuan dasar bagi yang buta delphi seperti saya, cukuplah. Saya memulainya dengan belajar sedikit-sedikit tentang database.

Agak lama memang, karena tak ada mentornya, dan tak banyak ebook tentang Delphi sebagaimana Net, dan Java. Ada sumber belajar yang gampang ?

Pelatihan Komputer Jaman Sekarang

Kemarin saya berkesempatan memberikan pelatihan jQuery kepada teman-teman Kominfo Propinsi Jawa Timur. Kalau saya amati, ada yang menarik pada pelatihan setahun terakhir dibadingkan tahun 2002 lalu. Tentu saja, karena 2002 sudah hampir satu dasawarsa.

Saya memberi pelatihan pertama kali tahun 2002. Saya ingat pelatihan dilakukan di ruang komputer. Personal Komputer dengan ukuran besar, monitor tabung sebesar pesawat televisi, dan segala sesuatu yang menghubungkan CPU dengan berbagai piranti lain dihubungkan dengan kabel. Kita pasti sudah bisa membayangkan.

Namun pelatihan kemarin lain. Tempatnya di Rumah Makan, semua peserta saya minta membawa laptop. Saya memang tak sempat berfikir soal jaringan yang menghubungkan antar laptop karena saya berbaik sangka bahwa ada wifi disana sehingga bisa juga untuk jaringan lokal. Eh, ternyata perkiraan saya meleset. Sinyal Wifi tak sampai di ruang pelatuhan yang letaknya di belakang. Namun nasib saya memang lagi baik, seorang peserta membawa Modem GSM 3G Router. Ukurannya sebesar hardisk eksternal dengan sedikit lebih tebal. Dengan bantuan perangkat ini masing-masing komputer bisa terkoneksi via wifi. Penggunaannyapun terlihat sangat gampang, tinggal di sambungkan dengan listrik, jalan. Kelihatannya habis ini pengin beli untuk pelatihan-pelatihan yang akan datang.

Pelatihan komputer jaman sekarang, lebih praktis :)

——-
* sumber gambar : http://rajamodem.com