Obrolan Cak Edy

Avatar

obrolan tidak serius dari orang yang tidak penting

First Head, Teknik Baru Penulisan Buku

Beberapa waktu lalu, dari Jakarta Pak Kresnayana Yahya, membawa sebuah buku statistik, Head First Statistics. Pertama membacanya, langsung terkesan. Saya melihat teknik menulisnya lain daripada biasanya. Tidak standart, namun amat sangat mudah dipahami. Tidak banyak kata-kata, namun kaya akan ilustrasi. Bahkan, buku itu disertai coretan-coretan pensil yang membuat lebih gampang dipahami oleh orang awam sekalipun.

Saya cari di internet, ternyata Head First ini adalah sebuah seri, dengan berbagai topik. Bahkan Fisika dan Aljabar pun ada.  Tidak hanya itu, ternyata bahasa C# pun bisa ditampilkan dengan baik dan mengesankan. Iseng-iseng saya cari di google PDF nya, dan saya simpulkan, bagi anda yang ingin cepat bisa, nggak punya banyak waktu, maka  seri Head First ini akan mempercepat anda untuk mengerti. Selanjutnya »

Maryamah Karpov

Semenjak, membaca Laskar Pelangi, minat saya membaca sastra menjadi besar. Padahal, sebelumnya, saya tak tertarik sama sekali dengan yang namanya Novel, apalagi puisi. Sekarang saya sudah menyukai novel, namun belum untuk puisi. 

Saya mengikuti dengan seksama buku-buku Andrea, sejak Laskar Pelangi sampai Maryamah Karpov. Tentang Maryamah Karpov, sudah saya khatamkan beberapa hari yang lalu.

Dari kesemuanya, yang paling menarik sesungguhnya cerita laskar pelangi itu, kemudian yang kedua Arai memberi nafas baru bagi novel Sang Pemimpi. Dan tetap saya teruskan ke buku bagian ketiga yang menceritakan pengalaman  sekolah di Eropa.  Ketiga buku itu berbicara tentang semangat pantang menyerah seseorang dengan berbagai keterbatasannya. Inspiratif, motivator, dan gaya bahasanya membuat kita tidak lelah meski sedang membaca bagian-bagian tak penting sekalipun. Selanjutnya »

Menuju Cahaya : Kumpulan Tulisan Anis Matta

Kesekian kalinya saya membeli buku Anis Matta. Sebenarnya bukan buku, namun kumpulan catatan yang dibukukan. Buku yang diterbitkan oleh PT Fitrah Rabbani ini adalah catatan Anis yang tersebar di berbagai majalah, artikel tausiyah, maupun pada pengantar buku tertentu.

Selanjutnya »

Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Sang Pemimpi
Mungkin buku ini sudah sering dibahas. Ini buku Best Seller, yang ketika saya membuka lembaran keduanya, saya mendapati tulisan cetakan kesepuluh sejak ditulis Juli 2006 yang lalu. Bagi anda yang tengah tergila-gila pada tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata seperti saya, anda pasti tahu bahwa ini adalah buku kedua dari tetralogi itu.

Buku di tangan saya ini adalah pinjaman dari Teguh Andoria, yang kebetulan mencari sesuap nasi di tanah ladang yang sama. Dia meminjamiku tanpa saya minta. Sebagai balas budi karena saya meminjaminya buku pertama. Adapun saya, tentu sangat senang menerimanya. Saya telah memimpikan bisa membaca semua tetralogi itu. Mimpi yang sangat sederhana, dan kelihatannya akan menjadi kenyataan. Hari kemarin, “Edensor” telah jatuh ke tangan saya. Rupanya Teguh yang juga tergila-gila dan membelinya hari senin lalu itu, dan telah mengkhatamkannya dalam tiga hari saja.
Selanjutnya »

Indonesian Idiot, Kenapa Tanya

Indonesia Idiot
Indonesia Idiot
Kebanyakan orang biasa memandang rendah pada orang idiot. Mencibirkan bibirnya, dan memicingkan matanya. Anehnya, Ir Puji Asmanto memiliki pandangan lain. Baginya, orang idiot adalah bukan orang biasa. Bukan orang biasa artinya orang luar biasa, sehingga kita perlu belajar banyak darinya. Penyusun mengemukakan beberapa hal, dimana orang waras perlu belajar pada orang idiot agar menjadi manusia luar biasa.

Kehebatannya memainkan kata-kata menjadi kekuatan buku ini dalam menyampaikan inti sebuah pesan. Dan kita akan dibawa berlabuh kepada pemahaman positif kreatif. Kalau boleh diibaratkan buku ini mirip sebuah kapal, muatannya adalah nilai Islami, dan mesinnya adalah kata-kata.

Ini bukan buku cerita, namun buku pegangan jiwa. Dia akan mengajak kita memahami makna kehidupan dengan masuk ke dalam lingkaran idiotspot, karena baginya idiot itu tidak biasa dan tidak biasa itu luar biasa. Dan pada titik luar biasa itulah kemudian dia memulai mengeja makna.

Dengan bahasa “seenaknya”, dia mengarahkan paradigma kita dalam memahami sesuatu. Kalau saya boleh menilai, buku yang disusun Alumni ITS angkatan 1977 ini ibarat buku Laa Tahzan citarasa ITS. Nakal, seenaknya, namun tidak bisa disangkal.