Obrolan Cak Edy

Avatar

obrolan tidak serius dari orang yang tidak penting

Wordpress.com VS Layanan Wordpress Lokal

Kemarin membuat situs blog di wordpress.com untuk sebuah tema tertentu. Nama besar dan besarnya kapasitas penyimpanan menjadi pertimbangan saya. Namun begitu saya ingin emmasang shoutbox, eh, ternyata tidak bisa karena tidak mendukung javascript; mau menggunakan alternatif iframe eh nggak didukung juga.

Jika kita ingin bisa menjalankan javascript atau iframe, ternyata penyedia layanan dalam negri malah mendukung. Blogdetik.com dan dagdigdug.com mendukung penggunaan javascript. Hanya saja untuk penyimpanan gambar, ruang yang disediakan layanan wordpress lokal jauh lebih kecil daripada wordpress.com.

Tapi kalau ngotot ingin yang support javascript, dan ruang penyimpanan yang lega, blogspot.com bisa jadi pilihan. Bahkan bukan hanya bisa mengedit javascript, namun juga CSS pada desain situs. Tetapi bagi yang terbiasa menggunakan mesin wordpress, menggunakan blogspot mengkin agak sedikit kerepotan.

Apapun, semua pilihan akhirnya kembali kepada pengguna.

Batal Menggunakan Wordpress 3 Kembali Ke Wordpress 2.9.1

Sudah banyak rekan-rekan yang melakukan upgrade ke Wordpress 3. Melihat desain dasbornya yang sederhana itu saya juga ‘kepincut’ untuk mencobanya. Meskipun banyak yang sudah berhasil, namun beberapa orang melaporkan kegagalan upgrade.

Bisa dimengerti, mengingat bagaimana Wordpress berjalan dipengaruhi banyak agen pendukungnya. Webserver, PHP dengan segala ekstensinya, kecepatan internet dan lain-lain …

Tadi seorang rekan melakukan upgrade secara online dan melaporkan bahwa dia bisa masuk dasbor, namun ketika dia masuk ke menu berikutnya selalu berhadapan dengan halaman login.

Saya yang mencoba melakukan instalasi di shared hosting juga mengalami nasib yang kurang baik. Aplikasi kekurangan memori.

Akhirnya balik kucing ke Wordpress 2.9.1 lagi ha ha ha.

ScribeFire di Perambah Chrome

Mungkin selama ini kita mengenal ScribeFire sebagai extension di Firefox yang berfungsi sebagai blog client. Namun tanpa sengaja, saya menemukan ada juga extension ScribeFire di Chrome. Semenjak ketemu Chrome, saya memang jarang sekali menggunakan Firefox. Bagi saya, Chrome terasa lebih simple dan ringan.

ScribeFile di Chrome
ScribeFile di Chrome

Meniru kebiasaan yang ada di Chrome, extension Scribefire juga terasa simple dan ringan. Begitu melihatnya, saya langsung jatuh cinta.

Memang berbeda dengan Zoundry Raven yang menangani gambar secara langsung, ScribeFire tidak menangani pengunggahan gambar. Jadi untuk urusan ini kita harus mengunggah gambar secara terpisah. Namun dalam sisi kepraktisan dan kesederhanaan, ScribeFire di Chrome ini tak ada bandingannya :)

Bagi pengguna Chrome, anda bisa menginstallnya lewat sini. Selamat mencoba.

Tips Menulis Konten (Blog) Mini di Twitter

Topik ini sebenarnya kelanjutan dari Membangun Konten Mini di Twitter, namun ini lebih teknis.

Twitter memang hanya 140 karakter saja. Kata orang ini sebuah kelemahan, namun sesungguhnya disitu pula kekuatannya. Bahkan terkadang Konten Mini di Twitter lebih sukses daripada konten yang ditulis di blog. Sebagai contoh adalah @mencobabelajar yang digawangi 4 anak SMP itu, telah di follow oleh 6400 follower.

Ada beberapa tips yang saya sarankan untuk keberhasilan Konten Mini kita di Twitter :

  1. Anda bisa mengambil topik-topik menarik dalam bidang agama, soaial, science dan teknologi. Namun topik-topik itu mungkin perlu anda turunkan menjadi hal yang lebih spesifik. Misalnya quran, sejarahislam, hikmah, hadits, statistik, biologi, fisika, pengetahuanumum, mesin, listrik, antariksa dan sebagainya. Banyak dah. Lebih baik lagi kalau itu sesuai dengan kompetensi anda.
  2. Buat tulisan berbentuk tips atau ‘anda perlu tahu’ yang mengadung jawaban dari pertanyaan apa, kapan, dimana, mengapa, siapa dan bagaimana (teknik 5W 1H).
  3. Usahakan satu satuan informasi selesai dalam 1 tweet.
  4. Jangan membuat gaya tweet – apalagi kalau dibuat keroyokan – berdasar kronologis waktu. Apa yang tertinggal akan sulit untuk disisipkan kembali.
  5. Jangan gunakan Mini Konten untuk berdiskusi. karena bisa merusak timeline. Jadi jangan menjawab kecuali dengan DM. Sebenarnya untuk soal mendiskusikan Konten Mini, Plurk atau FB lebih sesuai karena mempunyai ruang komentar di bawah status, hanya, rasanya pengguna lebih enak berlangganan informasi di twitter (subyektif sih :D ). Ini adalah peluang startup untuk membuat aplikasi yang mengakomodasi komentar seperti yang ada di Plurk atau FB, meskipun kalau kita bicara tentang komunikasi dan kesederhanaan model yang digunakan Twitter sekarang terasa lebih mudah.

Demikian sedikit tips yang bisa saya bagikan bagi yang berminat jadi kreator konten di Twitter. Ada tips atau informasi tambahan ?

Membangun Konten Mini Di Twitter

Berbeda dengan Facebook yang tidak tebuka, Twitter memberikan ruang yang lebih baik untuk membangun konten terbuka. Kalau saya perhatikan twitter sebenarnya hampir sama dengan blog dengan format mini, yah, namanya saja juga mikro blogging. Hasil konten itu nantinya akan bisa diakses secara publik, atau di follow, cara yang mirip langganan RSS Feed di blog.

Saat ini twitter lebih banyak digunakan untuk membuat status dan alat interaksi antar pengguna, namun saya juga melihat beberapa orang memanfaatkannya sebagai alat publikasi konten dalam bentuk status, berbentuk blog mini.

Saat ini saya melihat kecenderungan orang lebih menyukai konten yang pendek dan real time, ringan dan bisa digunakan untuk membunuh kejenuhan, seperti saat menunggu mata terpejam, menunggu teman, mengasuh anak. Mengakses konten dengan panjang yang tak lebih dari 140 karakter itu tak menyita pikiran dan waktu. Intinya sebuah informasi bisa diakses sambil lalu. Itulah kekuatan Twitter.

Beberapa contoh konten di twitter, antara lain :

  1. @safirsenduk : yang membuat tips tips keuangan keluarga tiap hari.
  2. @mencobabelajar : yang dibangun oleh 4 siswa SMP yang berisi tentang Rangkuman Pengetahuan Umum.
  3. @sejarahislam : dibangun oleh beberapa orang sahabat untuk membuat konten tentang sejarah Islam.
  4. @ayatquran : menampilkan ayat-ayat pendek untuk mengingatkan kita.

Tidak seperti blog yang memerlukan energi lebih untuk menulis, menulis di twitter lebih simpel dan bisa dilakukan sambil lalu juga. Tak butuh argumentasi yang panjang lebar dan ilustrasi panjang, bahkan kata-kata anda dibatasi dalam 140 karakter.

Ingin mencoba membuat konten mini di Twitter ?

Selamat Tinggal “Facebook Like”

Hari ini saya membuang fitur “Fecebook Like” di blog ini. Karena menurutku, fitur ini tak ada gunanya. Berdasarkan pengalaman di blog ini, orang malah lebih suka menaruh komentar, atau melakukan share daripada menekan tombol like.Apalagi secara teknis, tombol ini memperlambat akses, karena setiap halaman blog yang dibuka akan melakukan komunikasi dahulu dengan facebook untuk mengetahui berapa kali dia di like.

Facebook Like ini pada kenyataannya tak terlalu berbeda banyak dengan Facebook Share, malah menurutku Facebook Share lebih komunikatif.

Dari sisi yang mempunyai situs, Facebook juga tidak menyediakan dashboard untuk memeriksa statistik terkait layanan Facebook Like ini pada sebuah situs. (atau saya yang tidak mengerti ?).

Akhirnya mulai detik ini, saya pertahankan Facebook Share dan saya tinggalkan Facebook Like.

Next »