Kenaikan BBM Antara Yang Dikatakan dan Realisasi
Kalau saya melihat iklan di TV, kata pak Andi, kita mengalihkan subsidi dari barang ke orang, dari BBM ke orang miskin. Beberapa kali pak JK malah mengatakan, kalau BBM tidak kita naikkan, maka kita membiarkan orang kaya membakar BBM, bahwa sesungguhnya yang disubsidi selama ini adalah orang kaya. Namun setelah kenaikan BBM direalisasikan, kenyataannya, yang paling menderita adalah orang miskin, orang kaya mah, nggak ngefek.
Ya, saya mengerti mengapa BBM dinaikkan, saya kira ini bukan kehendak kita semua termasuk pemerintah. Dalam konteks politik dan pencitraan, menaikkan BBM tentu disadari akan menjatuhkan reputasi pemerintah. Harga BBM dunia meningkat pesat yang tak terantisipasi oleh APBN, koreksinya terlalu besar.
Namun yang sering saya fikirkan implementasi teknisnya apa memang harus demikian. Kenaikan BBM dipukul rata. Orang kaya dan miskin harus menanggung beban yang sama dalam konteks kenaikan BBM. Bukan hanya itu, kenaikan BBM telah memicu kenaikan - kenaikan segala macam alat transportasi dan barang-barang kebutuhan pokok. Jadi kenaikan BBM memicu adanya kenaikan berantai. Dan yang tertekan bukan orang kaya, namun orang miskin.
Kalau sasaran kenaikannya orang kaya saya kira tidak demikian kebijakannya. Paling tidak seperti yang diusulkan organda, kendaraan plat kuning tidak mengalami kenaikan. Jadi kenaikan dikenakan kepada mobil-mobil mewah dan pribadi. Sedangkan transportasi rakyat harus masih disubsidi.
Sekarang yang aneh, biaya bensin dinaikkan namun sopir angkutan rakyat seperti lyn yang penghasilannya tak seberapa tidak boleh menaikkan tarif. Lha terus bagaimana dengan margin keuntungan mereka. Sopir-sopir kayak gitu kebanyakan juga gakin lhoh pak. Makanya akhirnya terjadi gejolak kayak gini. Kalau angkutan tetap untungnya dari mana, dan kalau dinaikkan siapa mau naik lyn. Kalau kita naik lyn ganti 2 kali saja, kalau PP sudah 4 kali. Jika satu kali naik saja menghabiskan 2500 maka kalau 4 kali kan 10000. Kalau sebulan berapa ? 300000. Mending kredit motor kan ?
Terus masalah BLT juga demikian, yang paling kasihan adalah ketua RT. Kondisi ini menghadapkan ketua RT dan rakyat face to face. Makanya kemarin di TV beberapa lurah dan RT menolak. Beberapa kisah seperti ada warga yang mengancam ketua RT agar diberikan BLT dan semacamnya saya kira hal yang tidak hayal terjadi.
Saya kira kedepan perlu ada pengkajian skema terbaik menghadapi kenaikan BBM dunia. Kalau cuma menaikkan saja, nggak usah para pakar ekonomi, saya kira semua orang bisa kan ?
Achedy
adalah seorang programmer web dan bapak dari satu orang anak. Tinggal
di Surabaya sejak tahun 1996. Menulis adalah hobinya sejak kuliah. Blog
ini hanyalah opini pribadi yang tidak terkait dengan perusahaan,
partai, asosiasi, dan forum tempat blogger beraktifitas. Bisa dihubungi
melalui email achedy_at_penamedia.com 



6 Comments, Comment or Ping
misdi
naek kagak apa-apalah
masih lumayan ada BLT,
BBM naek, BLT juga naek.
ambil BLT dulu bro…
May 26th, 2008
syamsiah
Assalamu’alikum Wr.Wb.
di Ende apalagi,BBM naik semua jadi naik.saya aja ngeluh apalagi saudara-saudara saya yang lain?Apa yang bisa kita perbuat? Mau tidak mau terpaksa tetap diterima.
May 26th, 2008
chodirin
kalo divoting, saya yakin semua rakyat tidak ada yg setuju BBM dinaikkan.
Sudah jelas SBY-JK ingkar janji. saya baca dan nonton sendiri di media dulu SBY bilang gak akan menaikkan BBM. buktinya omong kosong.
sabar aja.. SBY-JK akan menuai akibatnya. jangan harap terpilih lagi dipemilu 2009. kecuali kalo rakyat kita mau jatuh 2x di lubang yg sama.
May 26th, 2008
Donny Reza
Saya kira yang paling logis dan mendekati ‘adil’ adalah memang dengan tidak menaikan harga bbm untuk kendaraan umum, itu jika logika pemerintah adalah yang sekarang dipakai. Jika perlu, untuk kendaraan pribadi, kasih 10ribu aja, sebagai upaya mengoptimalkan kendaraan umum. Atau dengan meningkatkan pajak kendaraan mewah.
May 26th, 2008
a.anwar.d
ana kira, siapapun yang menjadi pemimpin kita pada saat ini tidak akan dapat menghindari tindakan untuk menaikan BBM.ini adalah keadaan global, jadi mau tidak mau kita harus mengikutinya.apalagi dengan skema harga BBM kita yang memang sejak dahulu dibawah harga minyak dunia.coba bayangkan pada saat bensin di malaysia sudah sekitar 6000/liter kita disini masih menikmati BBM seharga 2000/liter.dari mana 4000 sisanya…?ya dari subsidi itu.subsidinya dari mana…?ya dari utang LN yang dipinjamkan untuk pembangunan tapi diarahkan kepada sektor yang simpel seperti subsidi BBM oleh orde baru.yang merasakan akibatnya ya kita sekarang ini, ketika akan mengikuti skema harga dunia yang melambung dan hutang yang melangit.satu2nya jalan ya mengurangi atau bahkan meniadakan subsidi.kalau tidak, hutang LN kita akan semakin menggunung….
May 26th, 2008
mazirwan
Menurut saya, yang inti dari permasalahan ini bukan masalah MENAIKAN atau MENURUNKAN harga BBM. Namun, adanya indikasi bahwa pemerintah kita gagal mensejahterakan rakyatnya. BBM boleh naik, namun jika rakyat telah sejahtera, pendidikan telah baik, telah tercipta kondisi dimana antara rakyat dan pemerintah mempunyai satu visi yang sama terhadap pembangunan bangsa, maka demonstrasi untuk meminta menurunkan harga BBM yang terjadi dimana-mana tersebut tidak perlu terjadi.
Sayangnya yang terjadi di Indonesia, pemerintah dan rakyat seakan-akan tidak mempunyai jalur komunikasi yang jujur. Rakyat diposisikan sebagai orang yang tak berdaya, tak mempunyai pilihan begitu suatu kebijakan diterapkan. Sedangkan pemerintah selalu mempunyai anggapan yang selalu benar terhadap semua kebijakan yang diambilnya. Sungguh sebuah ironi, dimana negara yang katanya menjunjung azas musyawarah dan mufakat, setiap ada kebijakan, rakyat tidak pernah diajak untuk memberikan pendapat. Para wakil rakyat juga mandul, tak bisa mengerti apa yang diinginkan rakyat.
Saya mohon kepada pemerintah, sejahterakan rakyat, bikin sebuah rencana pembangunan yang terarah, jangan berikan BLT yang seakan-akan melecehkan rakyat dengan memposisikan rakyat sebagai pengemis. Berikan kail, jangan berikan umpan.
May 27th, 2008
Reply to “Kenaikan BBM Antara Yang Dikatakan dan Realisasi”