Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Buku di tangan saya ini adalah pinjaman dari Teguh Andoria, yang kebetulan mencari sesuap nasi di tanah ladang yang sama. Dia meminjamiku tanpa saya minta. Sebagai balas budi karena saya meminjaminya buku pertama. Adapun saya, tentu sangat senang menerimanya. Saya telah memimpikan bisa membaca semua tetralogi itu. Mimpi yang sangat sederhana, dan kelihatannya akan menjadi kenyataan. Hari kemarin, “Edensor” telah jatuh ke tangan saya. Rupanya Teguh yang juga tergila-gila dan membelinya hari senin lalu itu, dan telah mengkhatamkannya dalam tiga hari saja.
Ini memang cerita tentang mimpi. Sebenarnya mungkin cita-cita, namun karena cita-cita terlalu jauh dengan realitas, dan dalam hitungan matematis sudah menghasilkan kata tidak mungkin, maka lalu cita-cita itu hanya disebut mimpi saja. Inti buku ini adalah cerita tentang Andrea dan Arai (sepupu jauh Andrea) saat SMA. Terutama mimpinya. Suatu saat ia bermimpi untuk bersekolah di Sorbone, Perancis. Bagaimana tidak mimpi, dia anak seorang sederhana yang bayang-bayang tidak bisa kuliah saja selalu menghantui pulupuk matanya.
Adapun Arai, dia adalah tokoh baru dalam cerita ini. Dia sepupu jauh Andrea yang sedari umur 8 tahun telah yatim piatu.
Yang paling mengesankan adalah usaha kerasnya. Dia menjadi kuli panggul dan mengumpulkan uang darinya agar setelah lulus pergi ke Jawa untuk melanjutkan kuliah. Kemudian memang dia pergi ke Jawa. Tidak seperti saya yang sewaktu kuliah hanya menunggu wesel dari orang tua, dia membanting tulang mencari pekerjaan. Dia menghidupi dirinya sendiri, dan kuliah dari uang jerih payahnya sendiri. Inilah yang menurut saya paling luar biasa. Jika jarum jam bisa diputar kembali, rasanya ingin kembali ke masa kuliah. Saya akan bekerja sendiri, saya akan membiayai kuliah saya sendiri. Membaca buku ini, saya merasa sangat dipermalukan Andrea.
Dari titik inilah perjalanan menempuh mimpi dimulai. Rupanya beasiswa sekolah Perancis merupakan gateway yang akan membawa dia ke alam mimpinya itu. Buku ini sungguh memotivasi.
Saran saya kepada orang tua yang yang mempunyai masalah dengan anak-anak remajanya. Hadiahkan padanya tetralogi ini. Buku ini akan mencambuk jiwanya. Dia harus mempunyai mimpi, dan berusaha dengan keras mengejar mimpinya.
Lihatlah hati para anak muda kini, racun dari Sinetron dan Televisi telah menghitamkan hatinya, telah merapuhkan jalan fikirannya. Lalu dia layu. Tidak berani bercita-cita, apalagi bermimpi. Dia telah menyerah kalah.
Buku ini adalah penawar racun itu. Tidak rugi anda membacanya.



View Comments, Comment or Ping
1. Cak Ferial
Yang penting nggak mimpi di siang bolong pak Edy, jadi mimpiin doang tapi no action menunggu sampai kapal karam. Ayo bangun P Eddy !!!!
Nov 16th, 2007
2. Agustinus
wah ed.. lama ga ktemu masih mimpi terus…
)
smoga jadi kenyataan deh.. memang di situ harus terus ada pemimpi pemimpi supaya tetap bertahan.. hehehe
Nov 16th, 2007
3. achedy
#1, #2 ProvokatoooooooR …..
Nov 16th, 2007
4. imam
hahahahahaha
Nov 16th, 2007
5. Andri Setiawan
wah..diceritain kaya gini terus, besok pas pulang ke Indonesia insya Allah beli ah …!
daripada ngiler …
Nov 19th, 2007
6. xmonex
pak ed boleh pinjam gak bukunya? soalnya aku pingin tahu sosok sang pemimpi
Jan 30th, 2008
7. achedy
#6. Yang punya Teguh, aku sih cuman minjam aja. Kalau bisa minjam kenapa harus beli he.. he…
Jan 30th, 2008
8. icha
sang pemimpi…
cuma satu kata aja dech…
KEREN !!!! TOP BGT !!!!
May 16th, 2008
9. Bezad
yahh…
kalo baca ne buku gw jadi “mimpi” mo nonton film nya dah^^
Jul 4th, 2008
10. abdullah
wujudkan mimpi menjadi kenyataan dengan cara berusaha tanpa putus asa kemudian serahkan pada Sang Khalik.
Aug 21st, 2008
11. pippo
Beranilah bermimpi…
krn dgn itu qt akan tetap hidup..
jgn berpikir realistis.. yg bisa membuat qt jd pesimis
go!!!!!!!!!!!!!!! FReeDom…
Oct 6th, 2008